Gempa Jawa Barat (Cianjur) 2022
Mw 5.6 · Cianjur, Jawa Barat
Magnitudo relatif sedang, tetapi kedalaman dangkal dan konstruksi buruk di daerah padat penduduk menyebabkan banyak korban jiwa.
Dampak yang dilaporkan: >600
Panduan
Panduan faktual tentang peristiwa seismik paling mematikan di Indonesia, dari tsunami Samudra Hindia 2004 hingga letusan Krakatau 1883.
Indonesia berada di zona tumbukan lempeng Eurasia, Indo-Australia, Pasifik, dan Lempeng Laut Sulu, menjadikannya salah satu negara paling aktif secara seismik di dunia. Kepulauan ini mencatat ribuan gempa bumi setiap tahun. Subduksi di sepanjang megathrust Sunda dan batas lempeng lainnya telah menghasilkan banyak gempa besar dan tsunami paling mematikan dalam sejarah. Peristiwa di bawah ini dipilih dari katalog resmi seperti USGS, BMKG, dan NOAA.
Lempeng Indo-Australia menyusup ke bawah Lempeng Sunda dengan kecepatan sekitar 5–7 cm per tahun. Ketika lempeng ini menempel lalu tiba-tiba tergelincir, terjadilah gempa besar. Perpindahan dasar laut vertikal selama pecahan megathrust dapat memindahkan volume air yang sangat besar, menghasilkan tsunami yang mencapai garis pantai dalam hitungan menit hingga jam.
| Tanggal | Peristiwa | Magnitudo / VEI | Wilayah | Dampak yang dilaporkan | Tsunami |
|---|---|---|---|---|---|
| 21 November 2022 | Gempa Jawa Barat (Cianjur) 2022 | Mw 5.6 | Cianjur, Jawa Barat | >600 | Tidak |
| 28 September 2018 | Gempa dan tsunami Sulawesi 2018 | Mw 7.5 | Donggala–Palu, Sulawesi Tengah | >4.300 | Ya |
| 25 Oktober 2010 | Gempa dan tsunami Mentawai 2010 | Mw 7.8 | Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat | >400 | Ya |
| 30 September 2009 | Gempa Padang 2009 | Mw 7.6 | Sumatra Barat | ~1.115 | Tidak |
| 17 Juli 2006 | Gempa dan tsunami Pangandaran 2006 | Mw 7.7 | Selatan Jawa | >700 | Ya |
| 26 Desember 2004 | Gempa dan tsunami Samudra Hindia 2004 | Mw 9.1–9.3 | Lepas pantai Sumatra utara | ~230.000 di 14 negara; Indonesia mengalami porsi terbesar | Ya |
| 12 Desember 1992 | Gempa dan tsunami Flores 1992 | Mw 7.7 | Laut Flores | >2.500 | Ya |
| 27 Agustus 1883 | Letusan dan tsunami Krakatau 1883 | VEI 6 | Selat Sunda | ~36.000 | Ya |
| 16 Februari 1861 | Gempa Sumatra 1861 | Mw ~8.5 | Sumatra tengah | Beberapa ribu | Ya |
| 25 November 1833 | Gempa Sumatra 1833 | Mw 8.8–9.2 | Sumatra barat daya | Tidak diketahui, tetapi kerusakan pesisir parah dilaporkan | Ya |
| 10 April 1815 | Letusan Tambora 1815 | VEI 7 | Sumbawa | Puluhan ribu langsung; diikuti pendinginan global | Ya |
Mw 5.6 · Cianjur, Jawa Barat
Magnitudo relatif sedang, tetapi kedalaman dangkal dan konstruksi buruk di daerah padat penduduk menyebabkan banyak korban jiwa.
Dampak yang dilaporkan: >600
Mw 7.5 · Donggala–Palu, Sulawesi Tengah
Pergeseran sesar mendekati Palu menghasilkan tsunami lokal, likuifaksi masif, dan longsor. Menonjolkan risiko tsunami non-subduksi.
Dampak yang dilaporkan: >4.300
Mw 7.8 · Kepulauan Mentawai, Sumatra Barat
Gempa tsunami di zona subduksi yang sama dengan peristiwa 2004. Run-up lokal melebihi 9 m.
Dampak yang dilaporkan: >400
Mw 7.6 · Sumatra Barat
Gempa thrust dangkal di bawah wilayah Padang–Pariaman. Keruntuhan bangunan luas menyebabkan sebagian besar korban jiwa.
Dampak yang dilaporkan: ~1.115
Mw 7.7 · Selatan Jawa
Gempa tsunami dengan pecahan lambat. Gelombang mencapai 5–7 m di sepanjang bagian pantai Jawa, mengejutkan masyarakat dengan sedikit peringatan.
Dampak yang dilaporkan: >700
Mw 9.1–9.3 · Lepas pantai Sumatra utara
Gempa ketiga terbesar yang pernah tercatat secara instrumental. Memecah ~1.600 km megathrust Sunda dan menghasilkan tsunami lintas samudra.
Dampak yang dilaporkan: ~230.000 di 14 negara; Indonesia mengalami porsi terbesar
Seismik mengubah konteks historis menjadi analisis bahaya khusus lokasi yang dapat ditindaklanjuti oleh insinyur dan perencana.